Pernahkah kita membayangkan bahwa solusi untuk berbagai masalah paling pelik di dunia mulai dari krisis iklim, banjir, hingga kekurangan air bersih ternyata sudah tersedia di sekeliling kita? Bukan dalam bentuk teknologi super canggih atau beton mahal, melainkan keberadaan hutan, sungai, dan lahan basah itu sendiri. Inilah esensi dari Nature-Based Solutions (NbS) atau Solusi Berbasis Alam.
Apa itu NbS? Lebih dari Sekadar Menanam Pohon

Secara sederhana, NbS adalah tindakan melindungi, mengelola secara berkelanjutan, dan memulihkan ekosistem alami atau yang dimodifikasi untuk mengatasi tantangan sosial secara efektif dan adaptif, sambil secara simultan memberikan kesejahteraan manusia dan manfaat keanekaragaman hayati.
Secara singkat kita membiarkan alam bekerja secara optimal untuk menyelesaikan masalah kita. Ini bukan sekadar menanam pohon (walaupun hal ini merupakan bagian tidak terpisah). NbS adalah sebuah pendekatan yang jauh lebih cerdas dan holistik. Kita dapat melihat alam bukan hanya sebagai sumber daya yang harus dieksploitasi, tetapi sebagai infrastruktur hidup yang memberikan layanan vital yang seringkali lebih murah dan lebih tahan lama daripada infrastruktur buatan manusia seperti tanggul beton.
Mengapa Kita Butuh Solusi Berbasis Alam?
Di tengah krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati yang semakin parah, NbS hadir sebagai strategi yang menawarkan manfaat ganda (co-benefits):
- Mitigasi Perubahan Iklim: Hutan, lahan gambut, dan padang lamun adalah “penyerap karbon” alami raksasa. Memulihkan atau menjaganya berarti kita secara langsung menarik CO₂ dari atmosfer, membantu mencapai target Net Zero Emission.
- Adaptasi Perubahan Iklim & Pengurangan Risiko Bencana: Ekosistem yang sehat bertindak sebagai penyangga. Misalnya, mangrove melindungi pesisir dari gelombang badai dan erosi (melawan banjir rob), sementara lahan basah dan daerah resapan air alami mengurangi risiko banjir di perkotaan.
- Kesejahteraan Manusia: NbS sering kali meningkatkan kualitas air (filtrasi alami oleh lahan basah), menyediakan udara yang lebih bersih (taman kota), dan menciptakan lapangan kerja berkelanjutan (ekowisata, kehutanan berkelanjutan).
- Pelestarian Keanekaragaman Hayati: Ketika kita melindungi ekosistem untuk mengatasi masalah kita, kita sekaligus melestarikan rumah bagi jutaan spesies flora dan fauna.
NbS diterapkan dalam berbagai skala, dari mulai pedesaan hingga perkotaan seperti halnya,
- Apabila terjadi banjir di perkotaan adalah dengan membuat pengerasan berpori, taman hujan (water catchmen). Hal ini memiliki manfaat air hujan terserap ke tanah, mengurangi limpasan air permukaan, mendingan suhu kota dan meingkatkan estetika.
- Krisis Iklim/Erosi Pesisi dapat dicegah melalui restorasi/pemulihan hutan mangrove. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk melindungi garis Pantai dari abrasi, penyerapan emisi (carbon) hingga 5 kali lebih banyak daripada hutan dataran per hektar dan menjadi habitat ikan sebagai sumber ekonomi nelayan;
- Krisis Air Bersih dapat dicegah dengan konservasi hutan di daerah hulu. Hal ini bertujuan untuk proses penyerapan air hujan “spons” alami yang dapat melepaskan air secara perlahan dan memastikan pasokan air bersih yang stabil menuju hilir;
- Ketahanan Pangan dapat dilakukan dengan sistem agroforestri dan pertanian regeratif. Hal ini bertujuan untuk mengkombinasikan pohon dengan tanaman pangan untuk menjaga kesuburan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati dan ketahanan pangan lokal.
Hubungan Erat NbS dengan Komunitas Masyarakat
Terdapat hubungan yang sangat erat dan fundamental antara keberhasilan proyek Nature-Based Solutions (NbS) dengan partisipasi aktif dan kesejahteraan komunitas masyarakat di sekitarnya.
NbS bukan sekadar proyek teknis penanaman atau restorasi, tetapi merupakan pendekatan holistik yang menempatkan kesejahteraan manusia (terutama masyarakat lokal) sejajar dengan kesehatan ekosistem. Tanpa keterlibatan masyarakat, proyek NbS hampir pasti akan gagal dalam jangka panjang.
1. Masyarakat Sebagai Penjaga dan Pelaku Utama
Dalam banyak kasus, masyarakat lokal dan adat adalah pihak yang paling memahami ekosistem di wilayah mereka. Kearifan Lokal (Local Wisdom) sering memiliki praktik dan pengetahuan tradisional (misalnya, sistem Subak di Bali atau cara pengelolaan hutan) yang secara inheren sudah merupakan bentuk Solusi Berbasis Alam. Proyek NbS modern harus mengintegrasikan kearifan ini, bukan menggantikannya. Proyek yang bersifat top-down (dari atas ke bawah) cenderung berhenti setelah pendanaan habis. Namun, proyek yang melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan (bottom-up) menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab kolektif. Masyarakat menjadi penjaga yang memastikan keberlanjutan proyek.
2. Manfaatan Ganda Sosial dan Ekonomi (Co-Benefits)
Salah satu prinsip utama NbS adalah memberikan manfaat ganda yang salah satunya adalah peningkatan kualitas hidup dan ekonomi masyarakat. Aktivitas restorasi hutan mangrove dapat melindungi desa di pesisir dari gelombang badai dan angin. Hal ini tentunya dapat mengurangi paparan resiko banjir, erosi dan tanha longsor yang meningkatkan keamanan aset dan jiwa. Keterkaitan lainnya adalah penciptaan ekonomi lokal yang dapat diperoleh dari pengolahan produk makanan/minuman dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan jasa lingkungan lainnya seperti ekowisata pesisir, proyek penanaman. Manfaat lainnya yang tidak kalah penting adalah ketahanan pangan dan air, dimana adanya kepastian pasokan air bersih yang stabil dari hulu ke hilir.
3. Risiko Kegagalan Tanpa Keterlibatan Masyarakat
Para kritikus dan ahli mengakui bahwa NbS bisa menjadi greenwashing atau bahkan merugikan jika tidak dilakukan dengan prinsip keadilan dan inklusivitas. Potensi terjadinya penggusuran (Land Grabbing) pada wilayah proyek. Beberapa proyek NbS berskala besar, seperti carbon offset (penghitungan karbon) di hutan, berpotensi melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan hak-hak masyarakat adat jika pelibatan dan persetujuan mereka diabaikan. Proyek penanaman yang tidak didasari dengan pemahaman konsep ekologi dan hanya berfokus pada satu jenis pohon (monokultur) dapat merugikan keanekaragaman hayati dan membuat ekosistem rentan terhadap penyakit, yang pada akhirnya tidak memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Oleh sebab itu, kesuksesan NbS harus memastikan bahwa komunitas lokal adalah penerima manfaat utama dan mitra pengambil keputusan, bukan sekadar objek yang dipindahkan atau dipekerjakan sementara.