Siapa bilang masyarakat pesisir hanya terdiri dari nelayan yang identik dengan kemiskinan dan perahu? Buku “Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir” karya Prof. Dr. Arif Satria, seorang pakar ekologi politik dan pemimpin di bidang kelautan, membongkar mitos dan menyajikan potret utuh komunitas yang hidup di gerbang perbatasan daratan dan lautan Indonesia. Buku ini hadir sebagai mercusuar di tengah minimnya kajian sosiologi yang fokus pada masyarakat maritim. Mengingat Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, kajian ini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan sebuah keharusan.
Karakteristik Unik Masyarakat Pesisir

Prof. Arif Satria mengajak pembaca untuk memahami mengapa masyarakat pesisir tidak bisa disamakan dengan masyarakat agraris pedalaman. Mereka memiliki karakteristik sosial yang khas, dibentuk langsung oleh interaksi intensif dengan ekosistem laut yang dinamis dan berisiko tinggi. Buku ini menekankan bahwa masyarakat pesisir adalah ekosistem profesi yang kaya. Mereka adalah pembudi daya ikan, pengolah hasil laut, pedagang, hingga pekerja di sektor pariwisata. Memandang mereka hanya sebagai nelayan adalah simplifikasi yang menyesatkan dalam perumusan kebijakan.
Berbeda dengan sosiologi pedesaan yang berfokus pada struktur sosial (society), sosiologi masyarakat pesisir harus berbasis sumber daya (resource-based). Hidup mereka diatur oleh ritme musim, kondisi cuaca, dan ketersediaan ikan, faktor yang sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Komunitas ini ditandai dengan jaringan sosial dan sistem produksi yang fleksibel. Mereka sering harus bekerja sama dalam kelompok kecil (misalnya, kru perahu) dengan ikatan sosial yang kuat, tetapi juga harus beradaptasi cepat terhadap perubahan harga dan regulasi.
Mengapa Kajian Ini Penting? Buku ini bukan hanya koleksi teori, melainkan alat penting untuk mengatasi isu-isu krusial:
Melawan Isu Kemiskinan Struktural
Selama ini, masyarakat pesisir sering diidentikkan dengan kemiskinan, namun buku ini menyoroti bahwa kemiskinan tersebut seringkali bersifat struktural—akibat kebijakan yang tidak pro-rakyat, tata kelola yang buruk, dan akses terbatas terhadap modal. Arif Satria menawarkan analisis mendalam tentang bagaimana ketidakadilan ini terjadi, mulai dari sistem bagi hasil hingga monopoli pasar.
Keadilan dalam Tata Kelola Kelautan
Buku ini sangat relevan dalam konteks kebijakan kelautan Indonesia, termasuk isu tata ruang pesisir, konservasi, dan pembangunan perikanan. Penulis menekankan bahwa kebijakan yang berhasil harus meletakkan rakyat sebagai subjek, bukan objek pembangunan. Pemahaman sosiologis yang kuat adalah prasyarat untuk menciptakan tata kelola yang adil dan berkelanjutan.
Fondasi Pemberdayaan
Bagi mahasiswa, dosen, maupun praktisi pembangunan, buku ini adalah pengantar yang sempurna untuk mulai mengkaji fenomena sosial di wilayah pesisir. Ini adalah landasan untuk merancang program pemberdayaan yang benar-benar menyentuh akar masalah, bukan sekadar solusi permukaan.
Secara keseluruhan, “Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir” merupakan karya fenomenal yang esensial. Ia mengajak kita semua untuk melihat lautan bukan hanya sebagai sumber protein, tetapi sebagai rumah dan penentu nasib jutaan warga negara yang perlu didengar dan dilindungi. Ini adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami Indonesia seutuhnya, dari Sabang hingga Merauke, dari pegunungan hingga garis pantai.
Sumber: “Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir” 2002 karya Prof. Dr. Arif Satria